Kamis, 19 Desember 2013

Be Smart, Be Healthy



SMART, sebuah kata yang mempunyai banyak definisi. Dan bagi tiap orang pengertian SMART ini pasti berbeda, seperti tiap pribadi juga mempunyai suatu keunikan tersendiri. SMART untuk wanita karir berbeda dengan SMART menurut pandangan seorang guru, penulis, dokter maupun ibu rumah tangga sepertiku. SMART bagiku tentu tak jauh dari peranku sebagai ibu rumah tangga. Sebagai ibu rumah tangga aku harus SMART bagi keluarga dan anak-anakku.  SMART bagiku adalah bagaimana aku bisa bersikap lebih cerdas, kreatif dan bijak dalam memecahkan permasalahan yang ada dalam keluargaku .

Apa sih yang biasanya diobrolin para ibu kalau sudah ngumpul bareng? Yang diobrolin memang macam-macam, tetapi biasanya sih seputar dunia anak. Kebiasaan si anak, kecerdasannya, pola makannya dan masih banyak lagi. Bagi ibu yang anaknya belum masuk sekolah dasar, sering sekali curhat tentang anak yang tidak suka makan atau pilih-pilih makanan. Wah ternyata ini termasuk masalah yang berat juga ya bagi para ibu. Nah, memang sih  para ibu rumah tangga harus pandai-pandai menyiasati makanan anak-anaknya. Makanan ini penting sekali bagi anak-anak, agar stamina bisa terjaga dengan baik dan badan tetap sehat dan tidak mudah terserang penyakit. 

Jika anak mudah terserang penyakit akan berdampak pada :

- Pelajarannya, apalagi yang sudah duduk di SD, bisa ketinggalan pelajaran.
- Orang tua juga pasti cemas kepikiran terus, nah bisa-bisa berdampak pada pekerjaannya juga, kan.
- Urusan rumah tangga bisa terbengkalai karena si ibu sibuk menemani dan menjaga anak yang sakit.

Pernah nggak sih mengalami kejadian seperti ini :

Ibu : “Ayo dimakan makanannya itu.”
Anak : “Nggak mau, Mama kan tau aku nggak suka sayur.”
Ibu (dengan suara lembut ) : “Coba dulu, sedikit saja. Enak kok.”
Anak : “Nggak mau!”
Ibu ( suara mulai keras ) : “Kalau nggak makan nanti bisa sakit lho.”
Anak : “Biarin! Pokoknya aku nggak mau makan!”
Ibu ( suara keras ): “ Kamu harus makan! Kalau nggak mau makan, Mama cubit nanti!”
Anak (berteriak sambil menangis ) : “Nggak mauuuu! Hu..hu..hu…”
Si anak berlari masuk ke kamarnya, si Ibu mengejar si anak dan mencubit pantatnya. Si anak menangis keras-keras..

Nah, pernah tidak mengalami kejadian seperti itu? Sedih sekali ya, jika melihat anak kita menolak makanan yang kita sajikan? Alangkah bahagianya seorang ibu jika makanan yang dimasaknya habis disantap dengan lahap oleh keluarga tercinta.  Tapi memaksakan kehendak pada anak tentu tidak baik bagi psikologis si anak sendiri. Jadi daripada marah-marah dan memaksa anak memakan makanan yang tidak disukainya, bisa kok memakai cara lain yang lebih lembut dan tidak membuat si anak ketakutan. Anak akan bisa lahap menyantap makanan tanpa paksaan dan si ibu juga akan merasa senang. Karena itulah ibu harus SMART menghadapi persoalan ini. 

Anakku terkadang rewel kalau disuruh makan sayuran. Sayuran yang biasa dimakan adalah gambas dan bayam. Aku menyiasatinya dengan mengolah sayuran yang tidak disukai menjadia aneka masakan tertentu yang disukai anakku. 

Contoh sederhana saja:

Anakku tidak suka kecambah, jadi aku membuat lumpia yang didalamnya ada kecambahnya. Anakku suka banget.


 Buncis kalau ditumis, anakku pasti tidak mau makan, aku menyiasati dengan membuat orak-arik. Buncis diiris tipis dan kecil-kecil, dicampur dengan wortel dan telur. Nah, kalau dimasak menjadi orak-arik ini, anakku mau makan dengan lahap.


Anakku tidak suka segala macam bawang, tapi makan martabak yang ada bawang preinya mereka mau. Jadi terkadang aku bikin martabak sendiri di rumah untuk keluargaku. Jika biasanya segala aneka bawang disingkirkan di pinggir piring, kalau dibuat menjadi martabak pasti bawangnya juga ikut dimakan.



Anak kecil biasanya sulit untuk mengunyah daging termasuk daging sapi. Kalau dimasak menjadi empal, terkadang mereka tidak mau makan. Untuk menyiasatinya aku blender daging itu dan mengolahnya menjadi galantine sederhana. Nah, anakku tidak kesulitan lagi mengunyah daging yang diolah menjadi galantine.




Itu beberapa contoh menyiasati makan untuk anak-anak. Kelihatannya aneh dan lucu juga sih, sayur yang tidak mereka sukai bisa dimakan dengan lahap jika diolah menjadi aneka masakan lainnya. Si ibu harus SMART memang dalam hal ini, harus pintar memanfaatkan celah yang ada sehingga anak tidak pilih-pilih makanan. Tapi mesti diingat juga agar makanan yang masuk tidak berlebihan karena bisa memicu obesitas anak.

Menyajikan makanan semenarik mungkin juga akan membuat anak tertarik untuk makan, seperti dibuat menjadi aneka bentuk yang lucu atau ditempatkan dalam kotak makan yang lucu. Saat anak-anak bosan makan buah mangga misalnya, aku menyajikannya dengan memotongnya menjadi dua bagian dan dimekarkan. Hasilnya sungguh luar biasa, anakku dengan lahap memakannya bahkan minta tambah lagi, padahal cuma penyajiannya aja yang berbeda ya hi hi..:D




Ibu adalah koki keluarga, dari tangan ibulah terlahir generasi penerus harapan bangsa yang cerdas dan sehat.

Yuk kita berlomba-lomba menjadi ibu yang SMART untuk keluarga, karena yang akan menuai hasilnya juga pasti keluarga tercinta juga.  Be SMART, be healthy ..




Senin, 16 Desember 2013

Mamaku, Santa Clausku







Desember menjelang Natal, aku memasukkan rumput  ke dalam kaos kaki dan kutaruh di kolong ranjang. Kata mama, Santa Claus akan datang dan menggantinya dengan hadiah impianku. Paginya, sudah ada boneka impianku di sana. Seneng banget! Setelah besar baru aku tau, mamalah si pemberi boneka itu. Mama tercinta adalah Santa Clausku. 


Foto ini diikutkan dlm kontes #NaGaBONarCintaIbu (NAmpang GAya, BlOgger NARsis Cinta Ibu) 

Kamis, 05 Desember 2013

Proyek Monumental 2014 : Membuat Sebuah Novel


Menulis adalah kesenanganku sejak kecil.  Saat sekolah dulu, salah satu pelajaran yang kusukai adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Apalagi kalau disuruh membuat sebuah karangan, wah senang sekali rasanya, bisa berlembar-lembar aku menulis di kertas itu. Seiring waktu, sejak kuliah aku hampir tidak pernah lagi menulis, apalagi setelah menikah dan mempunyai anak. Mengurus rumah tangga sendiri tanpa ART sungguh tak memungkinkan bagiku untuk menulis, apalagi saat ketiga anakku masih kecil. Tahun 2007 aku mulai mengenal blog yang ternyata sangat mengasyikkan. Aku bisa menulis di laptop, tanpa harus menghabiskan berlembar-lembar kertas. Sejak itu aku mulai menyempatkan waktu diantara kesibukanku sebagai ibu rumah tangga untuk menulis di blog, setelah anak-anak tidur malam, saat itulah aku bisa tenang menulis. Apalagi saat anak-anak sudah mulai sekolah, aku bisa menulis di blog dengan lebih leluasa. 

Banyak hal kudapatkan dari dunia blog. Mengenal banyak blogger dan mendapat banyak ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat. Salah satu blogger yang membuatku “iri” adalah sang komandan BlogCamp yang akrab disebut pakdhe Cholik. Setiap hari selalu saja ada artikel yang dipublish di blognya, dan yang mengagumkan blognya tersebar banyak sekali. Selain itu sudah banyak buku beliau yang terbit. Dua buku beliau yang sudah kubaca adalah “Rahasia Menjadi Manusia Karya Arti” yang sangat menginspirasi dan satunya lagi adalah buku “Blog Mini Penghasilan Maksimal”, sebuah buku tipis tapi benar-benar sangat bermanfaat sekali. Sungguh semangat beliau ini patut diteladani.




Aku benar-benar tertohok dengan perenungan dan pertanyaan “Aku sendiri? Apa yang sudah kuhasilkan selama ini?” Yah, masih belum ada hal besar yang kucapai tahun ini. Awal  Januari 2013 lalu aku mulai belajar menulis fiksi bersama dengan teman-teman di grup MFF. Belum ada setahun, tapi aku bersyukur karena banyak ilmu kudapat dari sana. Masih belajar untuk membuat cerita pendek yang disebut flashfiction yang rata-rata kurang dari 500 kata. Sekarang di blogku sudah ada 46 buah FF, jumlah yang seharusnya sudah bisa dibuat menjadi satu buku tersendiri. 

Demikian juga dengan event “30HariNonStopNgeblog” yang telah selesai diselenggarakan oleh Blogdetik, minimal sudah ada 30 artikel non fiksi yang bisa dibuat menjadi satu buku. Apalagi yang kutunggu? Kemalasan dan ketakutan.. Yah, mungkin aku terlalu malas dan terlalu takut untuk mencoba, tapi memang semuanya pasti butuh proses dan setelah itu baru bisa terwujud.

Tahun 2013 ini, dalam proses belajar menulis fiksi yang baru setahun, sudah ada 2 bukuku yang diterbitkan secara indie, yaitu buku "Best Of Monday Flashfiction" dan "Kata Mitos". Bukan buku solo, melainkan buku antologi bersama teman-teman lainnya, yang royaltinya disumbangkan kepada yang membutuhkan. Salah satunya adalah untuk “Hibah Sejuta Buku.” Buatku sebagai pemula, tentu aku sangat bersyukur sekali bisa lolos seleksi dan menjadi salah satu penulis di buku antologi itu.








 

Dan sebagai proyek monumentalku tahun 2014 nanti aku merencanakan untuk membuat sebuah novel. Terlalu muluk? Iya, mungkin terlalu muluk bagiku, karena aku terbiasa menulis tentang hal-hal yang biasa terjadi di sekitarku, tentang tumbuh kembang anak dan hal-hal lain di luar fiksi. Dunia fiksi memang baru kugeluti setahun terakhir ini. Tapi aku bertekat untuk terus belajar. Aku ingin belajar menuangkan pemikiran dan imajinasi yang ada dalam bentuk sebuah novel. Tak ada kata terlambat untuk belajar, dimana ada kemauan disitu pasti akan ada jalan. Jika ditekuni dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, sesuatu yang terlihat muluk ini pasti bisa diraih.

Tahun 2014 nanti masih ada 12 bulan yang akan berjalan, aku berharap paling lambat Desember 2014 nanti, aku bisa menerbitkan sebuah novel. Keinginan untuk membuat novel ini bukan sekedar untuk ikut-ikutan, bukan untuk menyombongkan diri, melainkan terlebih karena ingin memberikan sebuah karya, minimal untuk keluarga tercinta. Yang dibutuhkan sekarang adalah doa, keberanian, kerja keras dan ketekunan. Semoga dengan bantuan teman-teman dan ijin Tuhan, impianku ini bisa terwujud.



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...