Kamis, 15 Agustus 2013

Pohon Mangga Milik Bersama

Sebuah rumah yang mempunyai pohon dan berbagai tanaman akan terlihat asri dan segar. Di halaman depan rumahku  ada pohon mangga. Nah, aku paling suka dengan pohon mangga ini. Melihat pohon mangga di halaman depan ini selalu mengingatkanku dengan mama. Ya, yang memberi pohon ini adalah mama, pohon mangga ini hasil cangkok, tingginya jadi lebih pendek dari pohon mangga biasanya. Tahun 2004 aku menanam pohon mangga itu yang tingginya masih sebetis kaki. Akhirnya setelah 5 tahun kemudian, tahun 2009, pohon mangga itu panen untuk pertama kalinya. Saat panen pertama itu yang dihasilkan termasuk sedikit, karena buah mangga yang masih kecil sebesar telur ayam, banyak yang berjatuhan kena angin. Dan untuk tahun-tahun selanjutnya sudah lebih banyak dari panen pertama kali. Meski demikian, kami sekeluarga sebagai sang pemilik bisa dibilang sangat jarang menikmati panen dari pohon mangga kami.






Mengapa demikian, karena baik aku maupun suami tidak tahu bagaimana caranya mengambil pohon mangga itu dari pohonnya meski pohon itu tidak terlalu tinggi. Jadi biasanya naik ke kursi dan mengambil buah yang paling pendek dan mudah untuk diraih. pohon mangga kami lebih banyak diambil oleh orang lain, karena jaraknya memang dekat sekali dengan pagar rumah dan bagian yang paling lebat buahnya itu banyak bergelantungan di atas pagar. Banyak yang nekat melompati pagar rumah dan mencuri buah mangga itu malam hari, tanpa kami sadari. Tau-tau esok harinya buah mangganya banyak yang hilang. Tidak cuma di malam hari, di siang hari juga begitu, banyak anak-anak sekolah yang berniat mencuri mangga. Pernah suatu kali, aku memergoki 2 anak sekolah yang hendak naik tembok rumahku.

 “Mau apa dik?” tanyaku
 “Minta mangganya ya Bu?”
“Mangganya itu belum matang, masih mentah.”
 “Nggak apa-apa, ini buat Bu Guru, lagi ngidam.”
 “Oh, tapi letaknya tinggi. Bagaimana ngambilnya?”
“Aku bisa kok.”

Belum sempat aku menjawab, anak-anak itu langsung naik ke tembok rumah dan mulai memanjat pohon mangga itu. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
“Ambil 4 biji saja, Dik. Tunggu matang.”

Aku berbaik hati mengambilkan kresek dari dalam rumah, dan begitu aku kembali anak-anak itu sudah turun dari pohon mangga dan sepintas aku bisa melihat mangga yang diambilnya lebih dari 6 buah. Sebagian dimasukkan ke dalam tas sekolah mereka. Sembari pergi, mereka memakan mangga itu. Lho, katanya buat bu guru, kok malah dimakan sendiri sih? Aku bertanya dalam hati.

 Dua hari kemudian mereka datang lagi, kali ini tidak langsung mengambil tapi meminta ijin dulu. Ya sudah, kuijinkan. Eh beberapa hari lagi datang lagi malah kali ini mengajak banyak temannya, kali ini aku tidak mengijinkan, agar tidak menjadi kebiasaan. Biarlah dibilang pelit, lha yang minta anak yang sama, berkali-kali pula, lagian mangga itu masih belum matang. Gemes juga sih, aku menunggu mangga itu sampai matang, baru mau kupetik. Eh orang lain yang mengambil, apa enak ya mangga masih kecil dan belum matang itu dimakan? Kejadian serupa ini sudah berkali-kali kualami. Bisa dibilang dari 100 buah mangga yang ada, keluarga kami cuma makan 20 buah saja. Ya sudahlah, ikhlaskan saja. Anggap saja pohon mangga ini milik bersama he he.. yang penting minta baik-baiklah.

 Melihat pohon mangga ini, aku juga selalu ingat kalau sedang musim mangga, orang tuaku pasti mengirim paket mangga ke rumah. Tidak cuma sekali sih, tapi kadang beberapa kali. Si pengantar paket itu sampai bertanya sambil melirik pohon mangga yang ada di depan pekarangan, “Punya pohon mangga, kok dikirimi mangga terus ?”
“Iya, Pak. Orang tua pengennya ngirim terus, tahu kalau cucunya suka he he..”

Kalau dihitung-hitung paket ngirimnya lebih mahal dari harga mangganya itu sendiri. Tapi orang tuaku rupanya punya kebahagiaan sendiri dengan memberi ini.

 Mangganya biasanya mangga gadung yang besar, suami dan anak-anakku suka banget mangga gadung ini, segar dan manis. Mangga gadung ini kalau kulitnya tidak dikupas, cuma dibelah dan diiris kotak-kotak, lalu dimekarkan dan langsung dimakan…. Waahhh anakku suka bangettt. Pertama kali aku iris mangga seperti itu, matanya sampai tak berkedip. “Bagus sekali maaa, aku mau.” Dan bisa ditebak, makannya jadi lahap, sebentar saja sudah habis dan minta dibuatkan lagi.




 Kalau mangga dari pohon yang dirumah lain jenisnya, mangga arum manis, yang ada bintik-bintik di tengahnya. Manis juga, tapi lain rasanya. Untuk mangga ini, anakku suka minta dibuat menjadi manisan.



Sampai sekarang pohon mangga itu adalah pohon satu-satunya di rumahku, yang selalu dinantikan saat panennya, meski yang banyak menikmati adalah orang lain, tapi kami tetap senang. Pohon ini membuat rumah menjadi lebih sejuk.


Sekilas Tentang Mangga ( Mangifera indica )

Mangga atau mempelam adalah nama sejenis buah, demikian pula nama pohonnya. Mangga termasuk ke dalam marga Mangifera, yang terdiri dari 35-40 anggota, dan suku Anacardiaceae. Nama ilmiahnya adalah Mangifera indica.  

Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m.
Mangga bisa mencapai tinggi 10-40 m.
( Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mangga )

Khasiat 

Berkhasiat anti kanker, mengurangi kanker kandung empedu, radang buah zakar (testis), mengatasi gangguan saluran cerna (diare, tidak nafsu makan), batuk, anemia, dan kudis. Kandungan kalium dan magnesiumnya bermanfaat bagi mereka yang sering kram otot, stres, menderita gangguan jantung, dan juga acidosis. 








Panjang tulisan : 4665 (tanpa spasi)

1 komentar:

  1. waw, bikin ngiler.. :D

    Impian saya ituh mbak, punya pohon mangga, tapi ampe skrg belom kesampaian karena nggak cukup lahan.. :D

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...