Senin, 22 Juli 2013

Review Buku Macaroon Love - Cinta Berjuta Rasa






Judul Buku : Macaroon Love – Cinta Berjuta Rasa

Penulis : Winda Krisnadefa

Penyunting : Rini Nurul Badariah

Halaman : 264 halaman

ISBN : 978-602-9225-83-9

Penerbit : Qanita








Magali, sebuah nama yang terdengar aneh di telinga, seaneh tingkah laku si empunya nama. Menyebut sang ayah dengan namanya saja, Jodhi.  Suka bereksperimen dengan makanan seperti mencocolkan French Fries ke es cream vanilla sundae. Sungguh kebiasaan makan yang tidak biasa, itulah Magali.

Magali selalu tidak habis pikir kenapa ayahnya memberikan nama yang aneh kepadanya, meski Jodhi sudah mengatakan bahwa nama Magali dalam bahasa Prancis artinya adalah mutiara, dan makna luas namanya adalah daughter of the sea.

Magali dikelilingi oleh orang-orang yang unik. Sebut saja Beau ( diucapkan Booou, dengan posisi mulut seperti melafalkan huruf U tapi mengeluarkan suara O *bisa nggak? Susah juga ngucapnya yaa he he ) si ganteng bule Prancis, sepupu Magali yang selalu berdebat dengannya. Si Nene (ibu dari Jodhi) yang nyentrik dan Jodhi (ayahnya) sang juru masak di kapal pesiar. Sungguh merupakan sebuah keluarga yang unik. Tetapi justru dari sinilah buku Macaroon Love ini terasa hidup, semua karakter tokohnya terpapar sangat kuat.

Satu tokoh lagi yang membuat buku ini terasa hidup adalah Ammar, sang pemilik restoran “Suguhan Magali”, sebuah restoran yang membuat Magali terkejut karena nama restoran itu sama dengan namanya.

Cover buku yang bergambar kue macaroon sangat mengundang rasa penasaranku untuk segera membaca buku ini. Bagian awal buku ini terkesan biasa. Tetapi setelah membaca lembar demi lembar selanjutnya, aku seakan tidak bisa lepas dari buku ini. Gaya bercerita penulis yaitu Winda Krisnadefa si Emak Gaoel sangat menarik dan segar. Begitupun  alur cerita dari bab demi bab buku ini, mengalir halus dan ringan.

Meski banyak bertaburan kata”aneh” yang semestinya tidak terlalu perlu dijelaskan di buku ini, buku ini sanggup membuat perasaanku meleleh..wow.

Genre romance yang biasanya menyuguhkan konflik dan kisah percintaan antara dua manusia ini terkesan kurang. Meski begitu, kesan romantis tetap disajikan oleh penulis. Ammar menyusul Magali ke Australia cuma untuk memesan kue ultah buat Magali, sebuah macaroon tower yang dibuat oleh maestro Macaroon, si Adriano Zumbo.


Yang terlihat sebagai konflik dari awal sampai akhir cerita ini adalah konflik batin dari Magali sendiri, pencarian jati diri kenapa Jodhi memberinya nama yang aneh dan kenapa dirinya tidak mempunyai sifat seperti perempuan kebanyakan. Dan akhirnya buku inipun diakhiri dengan manis oleh penulis, semanis perasaan Magali yang sudah bisa berdamai dengan dunia.

Ada sesuatu yang lebih dari sekedar kisah cinta anak manusia saja yang kudapat setelah merampungkan membaca buku ini, bahwa tiap orang itu tidak harus mempunyai kepribadian dan selera yang sama seperti orang kebanyakan. Justru perbedaan itu yang membuat seseorang menjadi unik. Selain itu suguhan rasa persaudaraan yang erat, pemahaman yang lebih luas tentang makanan dan dunia kuliner, membuat buku ini mempunyai cita rasa yang berbeda.  Ada lucunya, ada sedihnya, ada romantisnya, ada happy nya … campur aduk semuanya.

Jarang sekali menemukan buku romance yang berbalut kuliner yang dikemas dengan gaya yang simple, segar dan menarik seperti ini. Buku ini memang keren dan layak dibaca oleh para pecinta fiksi.

**

Postingan ini diikutsertakan dalam Lomba Review Macaroon Love Bersama Smartfren dan Mizan yang diadakan oleh Kampung Fiksi

3 komentar:

  1. Duh pada punya macaroon love aku kapan ya

    BalasHapus
  2. Klo pulang ke Indo aja beli mak :)

    BalasHapus
  3. padahal pelafalan nama Boooou itu kayak teamnnya Shinchan ya Mak? :D Tapi kok dia kece :)

    semoga menang, Mak! ^^

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...