Senin, 08 April 2013

Ulasan Buku Cerita Di Balik Noda




Detail Buku :

Judul Buku : Cerita Di Balik Noda - 42 kisah inspirasi jiwa
Penulis : Fira Basuki
Editor : Candra Gautama
Perancang Sampul : LOWE Indonesia
Penata Letak : Dadang Kusmana
Tebal : xii + 235 halaman
Ukuran Buku : 13,5 x 20 cm
ISBN/EAN :   9789799105257 / 97897991052577
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Harga : Rp.40.000


Buku Cerita Di Balik Noda ini terdiri dari 42 kisah inspirasi jiwa, 4 diantaranya adalah karya dari Fira Basuki sendiri, yaitu : "Bos Galak", "Sarung Ayah", "Pohon Kenangan" dan "Foto". Sedangkan 38 cerita lainnya, awalnya ditulis oleh peserta lomba menulis bertema "Cerita di Balik Noda" yang diadakan oleh Rinso Indonesia melalui Facebook. Cerita-cerita itu kemudian dikembangkan oleh Fira Basuki dengan tetap mempertahankan gaya tulisan aslinya.

Benar sekali apa yang dikatakan Fira Basuki dalam pengantar buku ini, bahwa hidup semakin kaya ketika kita bersentuhan dengan "noda". Ya, hidup itu seperti baju kotor. Ketika noda dihilangkan dengan mencucinya bersih-bersih, kita ibarat telah memasuki hidup baru, masa depan baru dan harapan baru. Selalu ada hikmah di dalam sepercik "noda".



Cerita Di Balik Noda - 42 kisah inspirasi jiwa 

Saat baru membaca kisah pertama dari buku ini hati saya langsung bergetar haru. Saya sampai meneteskan air mata. Jarang sekali saya menangis saat membaca buku yang baru saya baca bagian depannya saja. Dan tidak berhenti sampai disitu, ternyata hampir di semua kisah yang saya baca, saya sampai menangis berkali-kali. Untung saja waktu membaca buku ini, anak-anak masih belum pulang dari sekolah. Jika ada mereka, pasti mereka akan bertanya,"Kenapa mama menangis?" Sungguh, buku ini sangat penuh dengan inspirasi.

Kalau ditanya kisah favorit/yang paling saya sukai dalam buku ini apa? Semua kisah dalam buku ini adalah favorit saya, semuanya saya suka, semuanya mempunyai makna tersendiri yang menyentuh hati saya, semua cerita membawa inspirasi tersendiri.

Dari buku ini pembaca bisa belajar banyak hal, justru dari dunia anak-anak. Pembaca bisa belajar tentang pemberian yang tulus, kemurnian hati anak-anak, ide tak terduga dari sang anak, kerja keras dan juga persahabatan.

Kisah "Sarung Ayah" menceritakan tentang kesedihan Hani karena suaminya(Hendro) meninggal. Ia akhirnya selalu murung dan aktivitas terbengkalai. Sang anak (Dewi) sama sedihnya dengan sang ibu, tetapi selalu berusaha ceria. Saat malam Dewi selalu memeluk sarung almarhum ayahnya. Akhirnya Hani sadar kalau ia tidak boleh sedih berkepanjangan, ia harus melanjutkan hidupnya.

Kisah lain tentang kesedihan dan kenangan ditinggalkan orang tercinta bisa dibaca di "Untuk Papa", "Bos Galak" dan "Pohon Kenangan". Semua kisah itu mengingatkan kita bahwa jika  ditinggalkan oleh orang tercinta, kesedihan pasti ada, tapi kita tidak boleh larut dalam kesedihan. Orang yang meninggal tidak bisa hidup kembali ke dunia,  kita akan selalu mendoakannya, selalu menyimpan kenangan cinta itu dalam hati kita, tetapi kita tetap harus melanjutkan hidup kita kembali.

Kisah "Foto" dan "Kado Ulang Tahun" menceritakan tentang keraguan istri kepada cinta suaminya karena suami sepertinya tidak perhatian lagi kepadanya, ternyata ia salah. Kedua cerita ini mengingatkan para istri untuk selalu  berpikiran positif bahwa suami bekerja keras demi keluarga tercinta, bahwa meski terkadang tidak selalu ditunjukkan, cinta suami selalu ada untuk istrinya.

Ada juga cerita "Tulisan di Sprei" tentang Chatya yang selalu diolok-olok temannya karena badannya yang gemuk. Akhirnya Chatya membuat tulisan di sprei lalu digantung di balkon lantai dua rumahnya. Sungguh telak, berkat tulisan itu teman-temannya tak lagi mengejeknya. Inilah tulisan di sprei itu :

“WALAUPUN AKU GEMUK, AKU TAK PERNAH
MENYAKITI ORANG. WALAUPUN GANTENG DAN CANTIK,
KALIAN PENUH NODA DI HATI.”

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kecantikan hati itu lebih berharga daripada kecantikan fisik. Cerita tentang anak dengan kekurangan fisik tapi memiliki hati yang cantik bisa dibaca juga di "Baju Boneka".

Cerita yang membuatku tertampar dan instropeksi diri adalah kisah " Imlek Buat Lela" menceritakan tentang Gwenn yang dengan ikhlas memberikan uang angpaunya untuk membelikan Lela sebuah sepeda baru yang persis sama dengan miliknya. Orang dewasa terkadang memberikan sesuatu dengan mempertimbangkan banyak hal, tetapi anak kecil seperti Gwenn sudah mengajarkan arti berbagi, memberikan sesuatu dengan tulus ikhlas.
“Nggak, ah, Ma. Masa kasih
orang yang bekas? Kan, Gwenn sudah niat kasih yang baru.
Gwenn nggak apa-apa, kok, malah senang Lela punya sepeda
baru. Dia pasti senang.”

Cerita tentang ketulusan hati anak-anak dalam membantu sesamanya meski harus berkotor ria juga bisa dibaca dalam kisah : "Nasi Bungkus Cinta", "Seribu Cinta", "Untuk Bu Guru", dan "Ogi Tidak Pelit".

Ada juga cerita tentang "Siluman Tikus" tentang prasangka buruk ibu-ibu terhadap tetangga baru mereka, seorang nenek tua yang bungkuk. Nenek ini disangka siluman tikus hanya karena depan rumahnya sangat kotor, penuh dengan sampah dan rumput yang tidak dipotong. Ternyata berkat seorang anak (Ali) yang rela berkotor ria membantu membersihkan rumah si nenek, para ibu akhirnya sadar bahwa prasangka mereka ternyata salah. Makna yang bisa dipetik dari cerita ini adalah: Janganlah menghakimi seseorang sebelum mengenalnya.

 Dalam cerita “Harta Sebenarnya”  juga terselip pelajaran berharga tentang arti kehidupan. Dalam kisah ini diceritakan Puspa mengajak temannya Donny berlibur ke desa.  Juga kerabatnya yaitu Lola. Awalnya Donny dan Lola yang manja dan terbiasa dengan permainan orang kota tidak menikmati liburan di desa.  Tapi di hari berikutnya, saat sang kakek mengadakan permainan yaitu mencari sandal jepit sang kakek yang terbenam dalam lumpur, pemikiran mereka berdua berubah. Mulanya Donny dan Lola terpaksa ikut dalam permainan itu, tetapi akhirnya mereka malah menikmati permainan ini dengan hati gembira.

Ada dua pelajaran yang didapat dari sang kakek yaitu: Kebahagiaan itu dari dalam hati, bukan dari benda-benda di sekitar kita.  Dan yang kedua adalah: Orang hebat adalah orang yang kakinya tetap menapak ke tanah, artinya manusia itu tidak sempurna. Jadi sekaya atau sesukses apapun kita, janganlah lupa diri. Tetaplah rendah hati, jangan takabur dan tetaplah sederhana.


Kisah "Di Balik Musibah" menceritakan tentang kakak yang merasa iri terhadap adiknya. Sejak kelahiran adik si kakak merasa tidak diperhatikan dan selalu disalahkan. Sampai suatu hari sang mama, adik dan tantenya mengalami kecelakaan motor. Kepala sang adik dijahit. Pada saat itu kakak baru menyadari bahwa meski dia merasa iri pada adik, si adik tetaplah adik kandungnya. Pada saat kecelakaan,kakak takut kehilangan adik. Kakak ingin Tuhan selalu menjaga adiknya. Saat itulah kakak menyadari bahwa orang tuanya menyayanginya sama seperti rasa sayang pada si adik. Ya, ternyata di balik musibah itu ada hikmahnya … Cerita ini mengingatkanku saat anakku yang pertama lututnya sobek terkena pecahan piring dan dibawa ke rumah sakit untuk dijahit. Kedua adiknya menangis tak henti-hentinya, bahkan sampai lutut sang kakak sudah selesai dijahit, mereka masih saja menangis. Mereka menangis karena takut melihat darah yang berceceran dan karena mencemaskan keadaan sang kakak. Ya, meski terkadang bertengkar, tetapi tetap saja keluarga adalah keluarga. Jika yang satu sakit, yang lain pasti akan merasakan sakitnya juga.

Selain cerita-cerita di atas, masih banyak cerita lain yang sangat menginspirasi hati.

Kesalahan Edit dalam Buku Cerita Di Balik Noda

Ada kesalahan edit dalam kisah "Sarung Ayah", dalam bagian depan kisah ini diceritakan bahwa anak Hani bernama Dewi (hal 55). Tetapi di bagian tengah sampai akhir (57-62), ditulis bahwa anak Hani bernama Wulan. Padahal Wulan semestinya adalah adik Hendro, seperti dikatakan dalam kalimat:

“Bukan kamu saja yang sedih Hani, kami juga. Ibu dan
Bapak sangat terpukul. Apalagi aku sebagai adik dan saudara
satu-satunya yang tumbuh bersama dia,” ujar Wulan adik
Hendro.
Kemudian kesalahan edit dalam kisah "Imlek Buat Lela" pada kalimat (hal 144):
Lela memandangku dan berkata," Nggak, ah, Ma. Masa kasih
orang yang bekas? Kan, Gwenn sudah niat kasih yang baru.
Gwenn nggak apa-apa, kok, malah senang Lela punya sepeda baru. Dia pasti senang."
Seharusnya disitu bukan : Lela memandangku ...  , mungkin maksudnya : Gwenn memandangku ...

Kisah Sederhana Sarat Makna

Terlepas dari sedikit kesalahan edit diatas, Fira Basuki sangat piawai meramu kisah demi kisah dalam buku ini menjadi bacaan yang mudah dicerna dan mudah dipahami. Cover buku yang berwarna putih dengan gambar bercak noda ini tampak sederhana, sesederhana tiap kisah dalam buku ini. Tetapi  kisah yang sederhana ini begitu sarat makna.

Benar seperti yang dikatakan oleh Fira Basuki, kisah-kisah dalam "Cerita di Balik Noda" ini seolah menyadarkan kita betapa anak-anak adalah sumber kebijaksanaan hidup yang tak pernah kering jika kita mau melihatnya dengan cinta. Kenakalan mereka adalah kilau emas, dan kepolosan mereka adalah mentari pagi yang menghangatkan jiwa.

Akhir kata, Buku Cerita Di Balik Noda ini wajib dimiliki dan dibaca oleh para orang tua, terutama sekali para ibu. Dengan membaca setiap cerita dalam buku  ini, diharapkan pembaca akan menjadi orang tua yang bijak dan berpandangan luas, membiarkan anak-anak bebas bereksplorasi dan menuangkan ide-ide mereka meski harus berkotor ria. Berani kotor itu baik! Biarkanlah malaikat-malaikat kecil kita bermain dengan dunia kanak-kanaknya, dunia yang penuh warna dan imajinasi.

Ulasan ini tentu saja tak cukup untuk menggambarkan keseluruhan dari isi Buku Cerita Di Balik Noda. Miliki segera Buku Cerita Di Balik Noda ini, dan pembaca akan segera larut dalam lembar demi lembar , kisah demi kisah yang sangat menyentuh dan menginspirasi hati.

Saya pribadi akan berusaha lebih bijaksana, membiarkan ketiga anak saya untuk bebas berekspresi dan melakukan berbagai hal positif meski harus berkotor ria, bahkan kalau perlu saya pun ikut berkotor ria bersama mereka. Karena sudah terbukti : Berani Kotor itu baik!




Postingan ini diikutsertakan untuk mengikuti Kontes Ngeblog Review Buku "Cerita Di Balik Noda" 15 Maret 2013 - 10 April 2013 yang diselenggarakan oleh KEB.

KEB

2 komentar:

  1. Whuaaa kerenn euy Mak..

    puanjanggg

    BalasHapus
  2. mantap tulisannya
    saya juga suka main kotor, menguburkan diri dgn pasir2 di laut itu memang hobi saya

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...