Selasa, 30 April 2013

Sekali Lagi Maafkan Saya Ibu

Setelah berkeliling ria di blog-nya mbak Evi Indrawanto dan membaca berbagai artikel yang ada disana,aku menemukan banyak sekali artikel yang sangat menginspirasiku dalam kategori Jurnal Motivasi, demikian juga dalam berbagai kategori lainnya. Tetapi ada satu artikel yang sangat berkesan buatku. Artikel itu berjudul : Sekali Lagi Maafkan Saya Ibu, terdapat dalam kategori: Jurnal tentang aku, anak dan keluarga.

Ini sebagian cuplikan dari artikel itu :

Mengapa jadi sedih begini? Well, pagi-pagi tadi dapat telepon dari ibu. Dengan ceria beliau  menanyakan  masak apa saya hari ini. Masak apa? Duh mata saja masih sepet boro-boro mikirin masak apa hari ini. Jadi dengan suara mengantuk  plus malas-malasan saya jawab : “ Belum kepikiran Bu, rohnya saja belum ngumpul..”

Untuk beberapa saat cuma keheningan yang terdengar dari seberang sana. Mestinya saya waras dan berpikir, mengapa  ibu tiba-tiba diam? Duh ternyata tidak tuh!  Sepertinya kedurhakaan telah  membuat otak mampet!  Tapi tak lama Ibu berkata lagi (tetap dengan  suara ceria) “ Gimana kalau nasi goreng sosis pakai nanas. Ibu ingat  kalau Evi yang masak menu ini pasti  enak “

Iya nasi goreng sosis bikinan saya memang tekenal enak dalam keluarga. Namun itu tak penting karena  kedurhakaan saya tetap berlanjut. Nah saat itu  saya benar-benar ingin mengakhiri pembicaraan dengan Ibu. “ Ya lah Bu, nanti saja mikirnya. Masih ngantuk nih. Sudah ya..…”

Saya cukup pintar untuk tahu bahwa saat itu Ibu  sudah merasa kalau di tolak. Tapi  ibu tetap mempertahankan intonasinya. Setelah sedikit lagi ngomong ini dan itu akhirnya telepon terputus. 

Sepuluh menit kemudian baru lah kabut mentalku diangkat Tuhan. Kalimat  kalimat terakhir Ibu terus saja terngiang-ngiang, “ Tadi ibu kangen saja kok…”
 Untungnya Ibu masih ada disana saat saya menelon kembali. Terdengar dia gembira banget menyambut panggilan saya. ” Maafkan saya ibu ”

Saat pertama kali membaca judul artikel ini, aku menjadi tertarik. Kenapa sih judulnya seperti itu? Dan akhirnya setelah membaca isi artikelnya, aku baru mengerti kenapa mbak Evi memberi judul itu. Artikel ini adalah curahan kesedihan dan perasaan bersalah mbak Evi terhadap ibunya. Dalam artikel ini diceritakan bahwa sang ibu pagi-pagi meneleponnya karena kangen, dan karena masih mengantuk mbak Evi menjawab dengan malas-malasan, bahkan akhirnya mbak Evi memutuskan pembicaraan. Sebagai seorang ibu pastilah bisa merasakan kalau anaknya sedang malas menjawab teleponnya, tapi kesabaran hati seorang ibu demikian luasnya sehingga sang ibu tetap sabar dan tidak marah.
Sampai akhirnya mbak Evi tersadar kalau dia sudah bersikap kasar terhadap sang ibu dan kemudian menelepon balik meminta maaf kepada ibu, yang menyambutnya dengan gembira.

Banyak sekali pelajaran berharga yang kudapatkan dari artikel ini. 

1. Aku menjadi diingatkan lagi bahwa sebagai seorang anak aku tidak boleh bersikap kasar terhadap ibu yang sudah melahirkanku. Bahkan ada pepatah : "Surga ada di telapak kaki ibu." Pepatah ini juga bisa sebagai pengingat bahwa seorang ibu sangat patut untuk dihormati. 

Sosok seorang ibu dengan berbagai macam panggilan: bunda, ibu, emak, mama, mami, umi, enyak dan berbagai panggilan lainnya, adalah sosok yang patut kita cintai. Aku sendiri memanggil mama terhadap ibu yang sudah melahirkanku ke dunia ini. Saat aku masih sekolah, mungkin aku tidak mengerti dan kurang memahami peran seorang mama. Tetapi setelah dewasa, menikah dan mempunyai anak barulah tersadar betapa hebatnya sosok mama buatku. 

Setiap hari bekerja membuka toko kecil mulai dari jam setengah enam pagi sampai jam setengah sembilan malam. Masih harus mengurus ke 4 anaknya dan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mengepel, membersihkan bak mandi, mencuci baju dan segala urusan rumah tangga lainnya . Biasanya jam 11 malam baru tidur dan pagi-pagi sekitar jam 3 pagi sudah bangun lagi, dan memulai lagi rutinitas seperti biasanya. Yang membuatku salut adalah semua itu dilakukannya tanpa mengeluh sedikitpun, meski aku tahu rasa capek dan penat pasti dirasakan oleh mama. Saat aku menghadapi ujian dan begadang belajar sampai tengah malam, mama selalu membuatkanku minuman hangat dan selalu menemaniku meski aku tahu mama sangat capek dan mengantuk. Tapi mama selalu tersenyum tanpa mengeluh sedikitpun. Ah, mama sosok yang hebat buatku.

2. Aku menjadi diingatkan lagi bahwa seorang ibu hendaknya berhati luas dan pemaaf. Aku pribadi harus belajar banyak untuk bisa menjadi sosok yang sabar dan bijaksana bagi anak-anakku.  Aku sendiri kadang menjadi jengkel kalau anak-anakku menjawab pertanyaanku dengan ogah-ogahan, apalagi dengan nada yang agak kasar. Rasa jengkel itu bercampur dengan rasa sedih dalam hatiku. Kenapa sih anak-anakku bersikap seperti ini? Saat itulah kesabaran dan kebijaksanaan hati sedang diuji.

3. Setua apapun, seorang anak tetaplah anak bagi orang tuanya, bagi ayah dan ibunya. Meski sang anak sudah menikah dan hidup sendiri dengan keluarganya, tentu saja tidak boleh sampai melupakan orang tuanya. Mungkin jarak yang jauh bisa menyulitkan kita untuk sering-sering bertemu dengan orang tua, tetapi dengan telepon pasti komunikasi masih bisa berjalan lancar.

Aku sendiri tidak bisa setiap minggu berkunjung ke rumah orang tuaku. Biasanya saat anak-anak libur sekolah saja, baru bisa bertemu. Saat liburan Idul Fitri, liburan kenaikan kelas, libur Natal & Tahun Baru, saat-saat itulah aku selalu menyempatkan berkunjung ke rumah orang tuaku. Selebihnya hanya lewat telepon minimal seminggu sekali. Aku terbiasa menelepon orang tuaku saat hari Minggu, sekedar menanyakan kabar kesehatan mereka dan juga melepas kangen. Terkadang karena kesibukan, aku lupa menelepon, dan kalau seperti itu orang tuaku yang gantian meneleponku. Yah, rasa kangen pasti ada, apalagi jika sudah lama tidak bertemu. Seperti dalam artikel mbak Evi tadi, ibunya pun menelepon karena kangen. 

Mama sendiri selain menelepon, terkadang mengirimiku paket. Tau apa isinya? Terkadang isinya roti, terkadang sayur-sayuran seperti jagung manis, wortel dan bawang putih. Terkadang buah-buahan.  Kalau kuhitung-hitung terkadang jauh lebih mahal ongkos paketnya daripada isinya. Tak hanya sekali aku bilang," Ma, tidak usah kirim paket. Di sini juga ada kok sayur dan buah-buahan seperti itu. Mending uangnya ditabung saja." 
Eh mama malah bilang," Tidak apa-apa. Lha kan memang niatnya mau memberi kok, ya memberi saja, tidak usah dihitung-hitung ongkos kirimnya." Nah, kalau sudah begini mau bilang apa?  

Kalau lagi musim mangga, biasanya mama sering mengirim mangga, padahal di rumahku juga ada pohon mangga. Si pak pembawa paket tadi sampai tanya," Ini punya pohon mangga, kok dikirimi mangga terus?" He he.. aku cuma senyum-senyum aja, "Iya, ini orang tua memang pengennya kirim-kirim terus."

Aku tau orang tuaku melakukan itu karena kangen saja, ternyata menyalurkan rasa kangen itu bermacam-macam yahh. Biasanya kalau seperti itu aku terkadang merasa bersalah dengan diriku sendiri, mestinya aku yang mengirim paket ke orang tua, bukan justru kebalikannya.

4. Tidak boleh malu dan gengsi untuk meminta maaf jika kita memang bersalah. Seperti mbak Evi dalam artikelnya, merasa bersalah kemudian menelepon balik ibunya untuk meminta maaf. Seperti itulah seharusnya jika kita memang bersalah, apalagi terhadap orang tua kita. Hidup manusia hanya Tuhan yang tau, bagaimana jadinya jika orang tua kita dipanggil Tuhan dan kita tidak sempat meminta maaf terlebih dahulu. Pastilah rasa bersalah akan menghantui kita seumur hidup.

Terima kasih mbak Evi sudah mau berbagi cerita, banyak pelajaran kehidupan yang kudapat lewat cerita itu.

Mama,
Terima kasih buat semua pengorbanan dan jerih payahmu selama ini
Terima kasih buat lantunan doa yang kau panjatkan setiap hari
Terima kasih buat cinta dan senyummu yang menghangatkan hati 

Aku belum bisa membalas semua itu
Hanya doa yang bisa kupanjatkan kepada Yang Kuasa
Semoga kau selalu diberi kesehatan dan perlindungan dariNya 
Kebahagiaanku sekarang adalah melihat senyum di wajah tuamu


 Aku mencintaimu mama
Selamanya ...



Tulisan ini diikutsertakan dalam First Give Away : Jurnal Evi Indrawanto


3 komentar:

  1. Kalau ingat kejadian itu lagi, rasanya gimana gitu Mbak Lianny..Dan kejadian itu membuat saya lebih banyak mawas diri. Walaupun masih sering melakukan kesalahan pada Ibu, setidaknya saya menyadari telah berbuat salah. Itu membantu saya agar tak mengulanginya lagi..

    Dan Ibu Mbak Lianny sungguh seorang ibu dambaan setiap anak. Bersyukur kita kepada Tuhan karena telah diberi ibu seperti ini ya Mbak..

    Terakhir terima kasih telah turut meramaikan hajatan pertama saya..:)

    BalasHapus
  2. ibu... segalanya bagiku :')

    BalasHapus
  3. Ibu, sosok berhati luas bagi anak-anaknya :)

    terima kasih sudah menyemarakkan GA mbak Evi. Sudah tercatat sebagai peserta ya mbak

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...