Selasa, 02 Oktober 2012

Tak Ada Yang Namanya Mantan Guru


Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
Kita jadi tau beraneka bidang ilmu dari siapa
Kita jadi pintar dididik pak guru
Kita bisa pandai dibimbing bu guru
Gurulah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara…….

Lirik lagu diatas menggambarkan dengan jelas betapa pentingnya peran seorang guru dalam kehidupan kita. Kita bisa menulis dan membaca karena peran seorang guru.  Kita menjadi pandai dan mengenal berbagai macam ilmu juga dari seorang guru.  Dengan demikian seorang guru bisa disebut pahlawan pendidikan, seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang kerap kali dikesampingkan dan tidak dihargai jasanya.


 (Gambar diambil dari Google)

Guru seperti apa yang disukai oleh muridnya?
Tipe dan cara guru dalam mendidik muridnya tiap orang tidak sama, ini adalah beberapa diantaranya:
a.       Guru yang otoriter
Guru ini dalam mengajar sangat disiplin bahkan cenderung galak. Murid yang lalai mengerjakan pr ataupun yang nilai pelajarannya jelek akan dikenakan sanksi. Biasanya banyak memberikan tugas sekolah ataupun tugas rumah untuk dikerjakan.
b.      Guru yang santai
Guru ini cenderung santai dalam mengajar dan tidak terlalu banyak memberikan tugas sekolah maupun tugas rumah untuk dikerjakan. Guru seperti ini biasanya juga lebih bisa memahami murid dan tidak terlalu memberikan hukuman jika murid lalai mengerjakan pr ataupun nilainya jelek dalam pelajaran.
c.       Guru yang senang bercerita
Guru ini senang bercerita dalam menyampaikan pelajarannya, senang bergurau dan bercanda dengan muridnya.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, guru seperti apa yang disukai oleh muridnya? Jawaban sang murid pasti berbeda-beda, tidak ada yang sama. Tapi sebagian besar tidak menyukai guru yang terlalu disiplin dan lebih cenderung memilih guru yang bertipe santai.  Mungkin kalau pertanyaan itu ditujukan kepadaku saat aku masih sekolah dulu, aku pun akan memilih guru dengan tipe santai, tapi sekarang .. saat aku sudah menjadi orang tua, aku pasti berpikir lain. 
Kalau ditelaah lebih lanjut , tiap tipe dari guru itu ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing.  Seorang guru yang otoriter kadang diperlukan juga untuk meningkatkan disiplin tiap murid. Bayangkan jika tidak ada kedisiplinan, semua murid selalu datang terlambat, banyak murid yang tidak mengerjakan pr, ulangan selalu menyontek, akan jadi seperti apakah murid itu?
 Terkadang kedisiplinan bisa melatih seseorang untuk lebih rajin dan lebih disiplin bukan hanya dalam mengerjakan pr atau belajar , melainkan juga disiplin dalam berbagai hal dalam kehidupan ini. 
Dalam saat-saat menjelang ujian murid juga akan sangat terbantu karena banyaknya pr atau soal yang diberikan, otomatis murid juga terbiasa belajar dan mengerjakan soal, sehingga akan lebih siap dalam menghadapi ujian. Sayangnya guru ini terkesan galak dan mudah memberikan hukuman bagi yang melanggar perintahnya. 
Guru yang cenderung santai menurut pengamatanku, akan santai juga dalam memberikan pelajaran  kepada muridnya. Memang murid senang karena pr yang diberikan tidak banyak, tetapi pada akhirnya murid akan terkena imbasnya sendiri. Yang semestinya materi pelajaran sudah sampai di bab 2, akan tetapi karena cenderung santai, materi baru bab 1. Saat menghadapi ujian, murid bisa tidak siap karena tidak terbiasa berlatih mengerjakan soal-soal.
Alangkah sempurnanya jika ada seorang guru yang bisa menggabungkan semua tipe tersebut. Seorang guru yang mengerti situasi dan kondisi murid-muridnya, seorang guru yang mengerti situasi dan kondisi kelasnya. Dalam menyampaikan pelajaran tidak berbelit-belit sehingga mudah dimengerti dan dipahami oleh muridnya. Terkadang disampaikan dalam bentuk cerita agar ilmu yang disampaikan lebih teringat dengan jelas dan tidak mudah terlupa. Terkadang melemparkan candaan agar suasana kelas tidak tegang dan jenuh. Akan tetapi ada saat –saat dimana guru ini juga menerapkan kedisiplinan kepada muridnya, misalkan saat ulangan atau ujian berlangsung sehingga tidak ada murid yang menyontek , jadi betul-betul murni pekerjaannya sendiri. Betul-betul mengajar dengan hati yang tulus, memberikan materi sesuai kurikulum pendidikan, memberikan soal2 yang dibutuhkan murid, berusaha memahami murid tiap personalnya sebagai pribadi yang unik dan berkarakter yang berbeda.

Guru dulu dan kini
Guru jaman dulu dan kini sudah cenderung berbeda. Kalau dulu, murid kurang berkomunikasi dengan guru kecuali saat pelajaran. Murid cenderung takut dan sungkan untuk berakrab ria dengan sang guru. Jika ada yang pergi ke rumah gurunya, tudingan “menyogok guru” akan diarahkan kepadanya. Komunikasi antara murid dan guru terbatas hanya di sekolah saja.

Guru sekarang lebih modern, senang bercanda dengan muridnya, sehingga tercipta keakraban antara guru dan murid, guru bisa sebagai sahabat juga, meskipun demikian murid tetaplah hormat dan sopan kepada guru. Di jaman modern ini, guru juga sudah banyak yang memakai hp sehingga komunikasi antara murid dan guru berlangsung lebih baik lagi. Jika ada yang tidak dimengerti murid sehubungan dengan pelajaran, ataupun jika ingin bertanya tentang tugas yang diberikan, murid bisa langsung menelpon gurunya. 
Dalam rapat orang tua di sekolah anakku , hal ini sudah dijelaskan di awal. Nomor telepon guru-guru di sekolah pun sudah dicantumkan di buku sekolah tahunan sehingga diharapkan adanya komunikasi antara guru-sekolah-murid- dan orang tua murid. Nomor guru ini sangat membantu sekali jika ada kejadian khusus, misal anak mendadak sakit dan orang tua tidak bisa mengirim surat ke sekolah saat itu, tinggal telepon guru wali kelas saja untuk pemberitahuan sementara. 
Selain itu dengan banyaknya social media di jaman internet sekarang ini, murid bisa lebih leluasa berkomunikasi dengan guru. Contohnya jejaring social media Facebook yang sedang ngetren sekarang ini, murid bisa berteman dengan guru-gurunya di Facebook, bisa saling berkomentar dan bisa saling berkomunikasi lewat chatting. Hubungan guru dan murid sekarang tidak terbatas di sekolah saja.

Potret Sang Guru
Di sini aku akan berbagi cerita tentang sedikit kehidupan dari tiga orang guru, inilah potret sang guru …


Potret Sang Guru 1
Tulisan ini berdasar dari cerita suamiku tentang gurunya, guru sekolah dasar .. 
Saat itu suamiku dan teman-temannya yang sudah duduk di SMA pulang dari menonton film di bioskop. Setelah film selesai, mereka memutuskan untuk makan di sebuah warung … Saat itulah, ada seorang pengamen yang menghampiri warung itu dan menyanyikan sebuah lagu. Suami dan teman-temannya melihat kearah sang pengamen, dan betapa terkejutnya mereka karena wajah sang pengamen itu persis dengan wajah guru mereka saat sd dulu. Mereka saling pandang dan tidak mampu bersuara … Sang pengamen itu melihat kearah mereka, dan entah kenapa lagu yang dinyanyikannya digantinya dengan lagu yang lain, lagu yang pernah diajarkan di sekolah mereka dulu. Saat itu suamiku dan teman-temannya memberikan uang kepada sang pengamen dengan hati yang bertanya-tanya, apakah itu engkau guruku? Apakah itu betul engkau? Sayangnya saat itu suamiku dan teman-temannya tidak berani bertanya langsung kepada sang pengamen, takut sang pengamen tersinggung. Sang pengamen kemudian pergi begitu saja, tidak mengatakan apa-apa. Jika benar sang pengamen itu adalah guru mereka, alangkah menyedihkannya, kejadian apa yang membuatnya seperti itu? Mereka tidak bisa memastikannya, ada keraguan tetapi ada keyakinan juga bahwa pengamen itu benar sang guru. Sampai sekarang, saat cerita ini berulang kali diceritakan suamiku kepadaku, aku melihat ada kesedihan dalam matanya, dan pertanyaan itu mungkin tetap tersimpan di hatinya,” apakah itu betul engkau,guru?”


Potret Sang Guru 2
Sewaktu aku dan suami masih tinggal di Surabaya, di depan rumah kami  tinggal seorang pensiunan guru dan istrinya. 
Mereka tinggal berdua saja disitu. Sewaktu kutanya, dimanakah anak-anak mereka tinggal? Mereka menjawab, anak-anak mereka semua laki-laki dan tinggal di luar kota, semuanya sudah berkeluarga. Sang guru ini sekarang hidup sederhana bersama istrinya, sesekali aku dan istrinya berbincang singkat saat bertemu pagi hari untuk membeli sayur di pedagang sayur keliling langganan kami.
Istrinya sangat ramah dan sesekali juga senang bercanda, sedangkan sang guru lebih banyak berdiam diri di dalam rumah, dan sesekali duduk di teras membaca buku. Sampai suatu ketika, sang guru mendatangi kami dan meminjam uang Rp 50.000 untuk makan dan hidup mereka sehari-hari. 
Aku tidak tahu, mungkin anak-anak mereka belum mengirimkan uang atau apa, kami tidak bertanya lebih lanjut karena takut menyinggung perasaan mereka. Kamipun meminjamkan uang kepada sang guru dengan hati yang trenyuh. Betapa mulianya tugas sang guru dalam dunia pendidikan, pengabdiannya dalam membagikan ilmu kepada muridnya patut dihargai. Sekarang, setelah pensiun, kehidupannya jadi seperti itu? Aku juga tidak akan ceroboh menuding anak-anak sang guru tidak memperhatikan orang tuanya sendiri, karena aku juga tidak tahu banyak tentang latar belakang keluarga mereka. Yang aku tahu saat itu mungkin hanya luarnya saja, tetapi itu akan menjadi bahan pelajaran  berharga buat  kehidupan kami . Hingga suatu saat mereka pindah, dan kami tidak pernah melihat mereka lagi.


Potret Sang Guru 3
Pensiunan guru satu ini tinggal di Jakarta, istrinya juga seorang guru dan masih mengajar sampai sekarang. Sang guru ini mengumpulkan uang untuk renovasi rumahnya, dan ternyata uang yang dikumpulkannya akhirnya tidak terpakai. Kenapa? Karena murid-muridnya yang dulu dididiknya, berinisiatif mengumpulkan dana untuk merenovasi rumahnya.
 Jaman modern dimana banyak social media, dan juga gadget canggih sekarang ini pasti salah satu faktor pendukung terealisasinya dukungan renovasi rumah untuk sang guru. Jadi semua sudah diurus oleh murid-muridnya, rumah ditinggikan agar tidak terkena banjir, lantai dikeramik, semua perabot seperti sofa dan tempat tidur diganti baru. 
Alhasil, rumah sang guru berubah kini, menjadi seperti rumah baru. Aku bisa membayangkan, pasti betapa bahagia dan terharunya sang guru karena murid-mauridnya masih ingat kepadanya,  bahkan mau memperhatikan kehidupannya setelah pensiun. 
Sedangkan murid-muridnya pun akan sama bahagianya karena mereka masih bisa memberikan sesuatu untuk sang guru, sebagai salah satu bentuk terima kasih mereka atas jasa guru dalam kehidupan mereka. Meski para murid itu tau bahwa jasa sang guru tidak akan pernah bisa dinilai dengan materi, berapapun jumlahnya .. Sungguh ini adalah kenangan yang manis antara guru dan murid. Kenangan indah buat sang guru di usianya yang sudah menua …

Dimanakah kalian sekarang berada? 


Bulan September lalu temanku mengupload foto dua orang guru di facebooknya, dengan status :
Dimanakah kalian sekarang berada? 
Masih Ingatkah dengan beliau-beliau ...?

Tentu saja aku ingat, meskipun foto itu kabur, tapi aku langsung tahu kalau itu foto guruku waktu SD dulu, Bu Tutik dan Bu Naniek. Wah darimana ya temanku mendapatkan foto itu, aku sendiri tidak mempunyai foto kenangan bersama guruku saat masih SD.
Melihat foto itu, aku menjadi teringat saat-saat aku masih duduk di SD dan dididik oleh mereka berdua. Ingin sekali rasanya kembali ke saat-saat aku bersama mereka, tapi memang itu tak mungkin terjadi. Yang ada sekarang hanya tinggal kenangan saja, hanya tinggal kerinduan yang tersimpan di dada. Dan mungkin teman-temanku juga merasakan perasaan yang sama denganku, sehingga sampai mengupload dan menulis status demikian.
 

Dimanakah kalian sekarang berada? Ah, andai saja beliau berdua punya FB dan juga melihat foto ini, andai saja kami bisa bercakap-cakap kembali, pasti senang sekali rasanya.
Guruku, semua jasa kalian kepada kami tidak akan pernah kami lupakan, jauh di lubuk hati kami yang terdalam, kenangan berharga bersama kalian akan tetap abadi selamanya .....



Guru Juga Manusia - Kenangan Manis bersama guruku 


 ( Kue ulang tahun dari anakku dan teman-temannya untuk pak Guru wali kelas mereka tahun lalu, melihat foto ini semakin mengingatkanku akan kenangan manis bersama guru matematikaku saat di SMP )

Ini adalah kenanganku bersama guru matematikaku saat aku masih SMP ..

Guru matematikaku saat itu juga merupakan kepala sekolah, usianya saat itu sudah lebih dari  50 tahun, berperawakan pendek dan memakai kaca mata. Pak Wandi, demikian beliau biasa disebut, terkenal sebagai guru matematika yang agak galak dan menakutkan bagi kami saat itu. Pelajaran matematika yang sangat rumit itu ditambah dengan guru matematikanya membuat kepala kami semakin pusing. 
Pak Wandi biasa memberikan banyak pr untuk kami kerjakan, dan saat ada pelajaran matematika lagi, pr itu dibahas. Biasanya kami dipanggil satu-satu untuk mengerjakan soal-soal itu di papan tulis, dan kami harus bisa menjawabnya tanpa melihat buku. Kalau yang mengerjakan sendiri, dijamin pasti bisa, tapi kalau yang hobinya cuma nyalin dari temannya, alamat deh … kemungkinan besar tidak akan bisa menjawab. 
Pak Wandi biasanya memanggil kami secara acak, jadi tidak mungkin menghitung-hitung sendiri, aku dapat giliran soal yang mana ya? Tidak akan bisa deh, jadi ya berdoa saja semoga dapat soal yang mudah. Tidak cuma pr saja, kadang waktu memberikan materi baru juga begitu, diberikan soal dan disuruh mengerjakan di papan tulis. Kalau tidak bisa, siap-siap deh berdiri di depan kelas sampai bisa menjawab soal itu, atau berdoa saja semoga ada teman penyelamat yang bisa menyelesaikannya, karena kalau soal itu sudah terjawab baru boleh duduk kembali. 
Jadinya setiap kali ada pelajaran matematika, hati jadi dag dig dug der, kelas jadi sepi sekali, padahal kelasku saat itu terkenal sebagai kelas yang paling banyak anak usil dan ramenya minta ampun deh. Suatu saat ada salah seorang teman mendatangiku (saat itu aku menjadi ketua kelas) dan mengatakan rencana yang buatku itu mustahil dilakukan, teman2 sekelas mau memberikan kejutan saat Pak Wandi berulang tahun, mereka mau memberikan kue tart saat pelajaran matematika. Mereka menunggu persetujuanku dulu sebagai ketua kelas … aku saat itu bingung sekali, hah… mana mungkin? Kalau dihukum gimana, pasti aku yang pertama disalahkan … Akhirnya aku pasrah saja, menyetujui rencana teman-teman karena kami sekelas sudah siap menerima hukuman bersama-sama.
Hari itupun tiba … pelajaran matematika akan berlangsung, detak sepatu Pak Wandi yang mendekati kelas kami rasanya seperti detak bom yang mau meledak, kelas berubah sunyi senyap seperti kuburan … deg … deg …. deg
Saat tubuh Pak Wandi muncul di dalam kelas, kami semua berdiri dan menyanyikan selamat ulang tahun dengan hebohnya, seheboh hati kami saat itu he..he… Salah seorang teman kami maju sambil memberikan kue ulang tahun kepada beliau. Bisa dibayangkan kan, bagaimana terkejutnya beliau, dan kami menunggu hukuman itu tiba… ternyata, bukan amarah yang terucap, tetapi kata-kata ”terima kasih” diiringi senyum di bibir beliau, dengan mata yang diselimuti keharuan. 
Hore… ternyata Pak Wandi tidak marah… plong… hati kami jadi lega sekali. Kemudian setelah berdoa buat beliau, kami satu persatu menyalaminya. Kelas menjadi rame sekali, hingga beberapa guru dan murid dari kelas-kelas lain mengintip kelas kami. Akhirnya dari dua jam pelajaran matematika itu, kami hanya efektif mendapat pelajaran matematika satu jam pelajaran saja, tapi saat itu pelajaran matematika terasa begitu menyenangkan, ah kapan lagi ya bisa seperti ini?
Pak Wandi ini kalau di luar jam pelajaran bisa juga bercanda lho, aku dan beberapa teman yang biasanya datang pagi-pagi ke sekolah , memberanikan diri menemuinya di ruang guru bila ada pr matematika yang sulit dikerjakan, dan ternyata beliau mau menerangkan dan membahas jawabannya dengan baik, tidak segalak kalau di kelas ternyata he..he.. mungkin kami saja yang terlalu takut … Ternyata, guru yang terkesan galak seperti beliau berhati lembut juga ya … guru juga manusia kan … Sekarang beliau sudah tidak ada, tetapi pasti kenangan dan didikan beliau yang disiplin akan tersimpan di hati kami, murid-muridnya …


Kebahagiaan Seorang Guru


 ( Saat Upacara di sekolah )

Kebahagiaan dari seorang guru adalah bila murid-muridnya telah berhasil menjadi orang yang sukses dalam hidup ini, berhasil menggapai cita-cita dan berkarakter yang baik pula sesuai harapannya. Saat itulah, seyum bangga dan haru akan menghiasi wajah sang guru, karena bekal ilmu dan kehidupan yang diberikan kepada muridnya tidaklah sia-sia … Saat itulah, kebahagiaan sempurna yang begitu indah akan menyelimuti hatinya, meskipun mungkin sang murid telah melupakan jasanya …


Tidak ada yang namanya mantan Guru
Saat perpisahan kelas 6 bulan Juni lalu, anakku menerima buku kenangan dari sekolahnya. Didalamnya berisi data-data semua guru di sekolahnya beserta data-data semua murid kelas 6. Disitu masing-masing guru wali kelas juga memberikan pesan-pesan terakhirnya buat para murid yang akan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama.
Aku juga melihat dan membaca pesan dari guru-guru yang ada dalam buku kenangan itu, ah seakan terbayang kembali saat-saat dimana aku dulu masih bersekolah di sekolah dasar dan mengalami juga perpisahan bersama para guru tercinta. Seakan semua pesan itu ditujukan kembali kepadaku, ada rasa haru di dada ini membaca semua pesan tersebut.
Tak mungkin aku menuliskan semua pesan dari para guru itu disini (karena panjangnya), tapi yang pasti semua pesan itu begitu indah dan begitu berharga buat langkah kehidupan muridnya di masa depan.

Ini adalah sebagian pesan guru yang begitu menyentuh hatiku: 
Ada pertemuan pasti ada pula perpisahan. Kita tak bisa melawan waktu, biarlah waktu itu berlalu seiring dengan doa bapak dan ibu guru semua , semoga kalian menjadi orang yang berguna bagi sesama, nusa dan bangsa .


Mantan pacar boleh ada, tapi tidak ada yang namanya mantan teman, bekas teman, apalagi mantan dan bekas guru. Selamat berjuang anak-anakku … jangan pernah mengenal kata putus asa .. 


Tetapkan hati kalian dalam kejujuran dan kebenaran, niscaya kalian akan menjadi orang-orang yang sukses dan berhasil di masa depan. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di masa yang akan datang ..  


Ya, tidak ada yang namanya bekas atau mantan guru, karena mereka akan selamanya menjadi guru kita, para pahlawan tanpa tanda jasa yang telah mengabdikan diri mendidik kita dan selalu mendoakan kita untuk menjadi orang  sukses di masa depan ...


Terima kasih, guruku …
Akhirnya, tak ada kata yang bisa kuucapkan buat para guru di negara kita tercinta ini, selain kata “terima kasih”. Tak ada yang bisa kuberikan, karena materi berapapun jumlahnya, tak akan bisa membalas jasa tulus para guru ini. Hanya lantunan doa yang bisa kupanjatkan buat para pahlawan tanpa tanda jasa di negeri kita tercinta ini … "Terima kasih, semua guruku tercinta ... "

( Ini foto perpisahan anakku yang duduk di TK dan akan melanjutkan sekolah di Sekolah Dasar, anakku dan teman-temannya menyanyikan lagu "Hymne Guru" untuk semua guru tercinta di TK)

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Postingan ini disertakan dalam Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar "Guruku Pahlawanku"


1 komentar:

  1. memang betul tak ada mantan guru gan tapi pensiunan guru tetap ada tow

    mampir di http://mix-write.blogspot.com

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...